UNIVERSITAS VETERAN BANGUN NUSANTARA SUKOHARJO Aku Cinta Mapala Gema Arga Nusa Mapala Gema Arga Nusa Aku Cinta
Senin, 22 Juli 2013
Senin, 15 Juli 2013
Enam tahun persahabatan dengan Soe Hok-gie, di akhir masa hidupnya.(1963 s/d 1969)
Tulisan ini
ku tujukan untuk para “ pengagum” Soe Hok-gie, terutama yang tidak
pernah sempat bertemu dengan” Soe” semasa hidupnya.
“Soe”adalah nama panggilan yang ia pakai menyebut dirinya sendiri pada teman2 dekat, dan panggilan kami menyapanya; Adapun nama “Gie”, adalah nama rumah yang dipakai intern didalam lingkungan keluarga batihnya saja , sebab “Soe” adalah Seh’ nama keluarga Tionghoa- “Family Name”
Pennggambaran
John Maxwell dalam :” Soe Hok-gie, a biography of a young Indonesian
Intelectual”, cukup jelas dan informatif, walaupun ia tidak pernah
bertemu Soe Hok-gie secara pribadi sebelumnnya, tetapi dia telah
mengadakan penelitian dan penulisan Biografi berdasarkan Riset yang
teliti dan mendalam tentang Soe Hok-gie, latar belakang keluarga,
teman2 dekat, aktivitas, perjuangan, tulisan2 dan pemikiran2nya dll
selama lebih dari 23 thn, sejak 1970
Penampilan fisik, bahasa tubuh serta suara Soe, bisa dilihat dan didengar jelas dalam Film Dokumenter “A House in the Jungle” yang dibuat Australian Broadcasting Comission, dengan Sutradara John Powers,
1969 ,(ketika itu Soe kebetulan terpilih mewakili Generasi
Intelektual Muda Indonesia,untuk direkam seluruh kegiatannya dalam
sehari penuh). Film ini telah beredar di luar Indonesia seperti
Australia, Eropah sampai ke Amerika Serikat, akan tetapi dilarang
beredar di Indonesia ketika itu, sebab dalam wawancaranya antara lain
Soe Hok-gie berani secara blak-blakan menyebut “The Indonesian Military
Regime” ketika Pak Harto masih berkuasa penuh.
Dalam
Film ini kita bisa melihat Soe Hok-gie dalam keadaan hidupnya
sehari-hari,yang mana dipakai Nicholas Saputra sebagai acungan untuk
dipelajari dan ditiru bahasa tubuh, ber bicara dan suara , cara2
berjalan, dan kebiasaan Soe lainnya, sehingga sebagai aktor Nico
sanggup memerankannya secara baik, malahan untuk mengerti dan menjiwai
tokoh SH-gie, Nico tidak segan-segan meluangkan banyak waktunya membaca
buku2 bacaan yang pernah dibaca SH-gie.
Sekalipun
SH-gie adalah teman karib, sehingga hubungan kami sangat dekat dan
pribadi,tetapi banyak hal tentang dirinya baru ku ketahui jelas setelah
membaca buku hasil penelitian John Maxwell diatas.
Pertama
kali aku mengenal Soe, adalah ketika dia masuk Fakulta Sastra
Universitas Indonesia di Rawamangun ahir 1962 sebagai Mahasiswa Baru
di jurusan Sejarah, ketika itu ia dekat dengan Zainal Zakse dan Richard
Leirissa- keduanya adalah se angkatanku dari Jurusan Sejarah.
Tidak
ada yang istimewa tentang dirinya ketika ku mengenalnya pertama kali,
sama halnya seperti mengenal banyak mahasiswa2 baru yang lain.
Setahun
kemudian aku mulai terarik bahkan perlahan-lahan menjadi akrab dengan
dia karena banyak nilai2 dan pandangan hidup kami yang cocok atau sama,
apalagi setelah mengetahui bahwa dia juga dekat dengan sahabat karibku
di SMA Negeri-I, Budi Utomo, Boellie Londa; mereka sama2 pengagum
Sutan Syahrier dan simpatisan Gerakan Mahasiswa Sosialis (GMSOS).
Memang
Boellie dan aku tergabung dalam Gerakan Mahasiswa Kristen Indonesia
(GMKI). Boellie sangat aktif berorganisasi, sedangkan aku ikut2an saja,
sekedar sebagai Orang Manado dan beragama Kristen- untuk mengenal
pergaulan ke mahasiswaan.
Pada
waktu itu hampir setiap mahasiswa, tergabung dalam salah satu Kegiatan
Mahasiswa Extra Universiter, seperti : Himpunan Mahasiswa Islam (HMI),
PMII, Persatuan Mahasiswa Katholik Roma Indonesia(PMKRI) berlatar
belakang/”onderbouw” Partai2 Politik berdasarkan Agama; Adapun Corps
Gerakan Mahasiswa Komunis Indonesia (CGMI), PERHIMI, dan GERMINDO,
adalah yang berlatar belakang Komunisme. Selain itu ada Ikatan
Mahasiswa Djakarta (IMADA ), Gerakan Mahasiswa Djakarta (GMD), yang
berlatar belakang residensial, lokasi, domisili, kota, dll
Dalam
kegiatan Mahasiswa Intra Universiter, yaitu di Senat Mahasiswa, Dies
Natalies Fakultas, maupun Masa Prabhakti Mahasiswa (MAPRAM) di Fakultas
Sastra UI, yang jumlah mahasiswanya sedikit dan mayoritas wanita
(dibandingkan dengan Fakultas2 besar, seperti Fakultas Hukum & IPK,
Ekonomi, Kedokteran di Salemba) menyebabkan pergaulan kami akrab penuh
persahabatan dan kompak seperti sebuah keluarga besar.
Saat
aku terpilih sebagai Ketua Umum Senat Mahasiswa Fakultas Sastra UI,
pada bulan Desember 1964, Soe semakin dekat dengan ku dan menjadi
Penasehat/Advisor pribadi dengan Jabatan resmi sebagai Pembantu Staf
Ketua Senat Mahasiswa dalam struktur Personalia Senat Mahasiswa.
Terlampir
adalah copy asli Pidato Pelantikan sebagai Ketua Umum Senat Mhs FSUI
dan Susunan Personalia Senat Mahasiswa yang ku pimpin pada 23 Desember
1964.(secara resmi disahkan Dekan Fakultas Sastra- Universitas
Indonesia. tanggal 12 Januari 1965)
Kalau
diperhatikan Personalia Senat Mahasiswa waktu itu terdiri dari lebih
100 mahasiswa dari segala Jurusan di Fakultas Sastra UI, dari yang
independent sampai yang berlatar belakang Ormas Extra-Universiter (
CGMI,Perhimi dan Germindo; ataupun GMNI ,GMSOS , HMI,PMKRI, GMKI,
IMADA,GMD, dll)
Ketika
itu Partai Komunis Indonesia (dengan Gerwani, Pemuda Rakyat, SOKSI,
CGMI) sedang di”beri hati” oleh Sukarno dengan konsep NASAKOM-nya ,
merasa kuat dan mulai “unjuk gigi” di Senat Mahasiswa FSUI melalui
CGMI; mereka menuntut agar Senat mendepak HMI (yang dituduhny antek
Masyumi) dan GMSOS antek PSI, keluar dari Senat Mahasiswa, sebab
dianggap kontra Revolusioner.
Dalam
hal ini Senat Mahasiswa FSUI, bertindak tegas membela hak azasi
mahasiswanya: silahkan ber Ormas apa saja diluar adalah haknya masing2
individu, tetapi di dalam Senat Mahasiswa kita se Alma Mater dan
Kegiatan Extra Universiter jangan mengganggu ketentraman dan
kerukunan kegiatan Intra Universiter.(yang berazaskan ” Buku, Pesta dan
Cinta”, yaitu kita di kampus untuk Study, Enjoy masa muda dan hubungan
akrab kompak saling mengasihi/cinta”)
Dalam
kenyataan Senat Mahasiswa kami dapat berjalan dengan kompak, sebab
Penggeraknya adalah Orang2 pekerja yang aktif dan berinisiatif, rajin,
loyal , berani dan jujur, tersebar dalam Posisi2 kunci yang penting,
sehinga tidak bisa di”boikot” bila ada yang bermaksud mengacaukan.
Apalagi
kami sudah terlatih kompak sebagai Team kerja dalam kegiatan2 di
Seksi Penggemar Alam, (yang adalah cikal bakal MAPALA-UI).
29
Sept 1965-1 Okt. 1965 Team MAPALA dalam Pendakian ke Gn Merapi,:
berdiri kiri kekanan: Deddy Satrio ( M-017),Sudrajat (kawan SH-gie),
Asminur S.Udin (M-002); Herman Lantang (Ketua Senat Mhs FSUI) duduk
dari kiri kekanan. Liem Beng-tie (keponakan Jakob Utama/jurusan
Jerman), Judy S.Hidayat M-008), Rahayu Surtiati (M-004), Pitut Endang
Puspita (M-005); Alm Cecep Darmatin Suryadi (M-015);Alm Soe Hok-gie
(M-007); Roy Gandasutedja (M-011) dan almarhumah Mayang Sari (M-006)
Peristiwa
Pembrontakan G-30 S terjadi ketika kami sedang mendaki gunung Merapi-
dalam Rombongan MAPALA kami kebetulan terdapat dua “ anak Jendral”,
yi. Endang Sutjipto (anak Jendral Sutjipto SH dari Angkatan Darat) dan
Yayu Surtiati (anak jendral Polisi), menjelang 1 Oktober 1965, kami
terpaksa nginap di St.Gambir sebab di Jakarta sedang berlaku jam malam.
Kegiatan
Senat Mahasiswa jalan terus, diahir thn 1965, sedang anggota2 Ormas
Komunis dan oposisi mulai menghilang satu persatu- jadi kepengurusan
Senat Mahasiswa periode 1965-1966, dilanjudkan dengan terutama kerja
sama teman2 dari Golongan Alma Mater .
Pada
9 Januari 1966, sebelum resmi adanya Aksi2 Mahasiswa di Salemba 4,
Soe mengusulkan , agar Senat Mahasiswa FSUI mengadakan Aksi Mogok,
tidak menggunakan Kendaraan Umum, tetapi berjalan kaki dari Salemba ke
Rawamangun, sebagai Protes akan Kenaikan Harga Bensin dan Bahan Makanan
Pokok. (Selanjutnya . . . baca Catatan Harian Seorang Demonstran)
Dalam
kegiatan Aksi Mahasiswa biasanya aku mengkordinir dan memimpin Masa
Mahasiswa Fakultas Satra di “lapangan”, sedangkan Soe Hok-gie bergerak
dibelakang layar sebagai pemikir dan “otak” yang mengatur strategi
pelaksanaan Aksi (dibantu Boellie Londa dan Jopie Lasut). Dia juga
berbakat sebagai ‘Pengompor’masa dengan pidato atau tulisan2nya di
Koran, yang tegas, jujur, berani, blak-blakan dan ber api-api. Biasanya
kalau “masa” sudah terkumpul, maka Soe kupersilahkan angkat bicara,
dan disinilah “kharisma Soe akan muncul “ ketika dia mulai bicara
ataupun ber-’agitasi’ dengan berani dan meyakinkan membuat orang
terpukau kagum mendengarkannya..
“Masa”
mahasiswa kami adalah gabungan dua Fakultas terkecil di UI waktu itu yi
Fakultas Sastra dan Fakultas Psychologi , merupakan kelompok militan
yang bergerak secara cepat dan efesien .
Biasanya
kami bergerak “mobile” dengan bersepeda, kadang2 di kawal teman2 Jopie
Lasut (-ex-Permesta , sebagian mahasiswa i Asmi). Kami melakukan
kegiatan2 Aksi yang unik berupa kejutan tersendiri dengan kompak cepat
dan tepat ke tempat2 tertentu diluar jalur sasaran kegiatan Masa
mahasiswa KAMI Jaya/ Pusat,yi al ke Kantor berita RRT, Sin Hua”,
Mahkamah Agung, Pertamina dll
Pada
umumnya Kegiatan kami segera disusul dengan publikasi Media Masa yi
laporan/reportase di koran2 ibu kota seperti Sinar Harapan, Kompas dan
Indonesia Raya, Harian KAMI,(juga dalam Mingguan Mahasiswa, edisi
JABAR) dengan jalur a.l SoeHok-gie, Tides Katoppo dan Jopie Lasut.
Thn
1966, Kegiatan di Alam , membuat kami tambah kompak dan Solid.
Rombongan Mapala di Kandang Badak, pada pendakian ke Panggrango sebagai
Selingan segar , dari Kegiatan Aksi Mahasiswa yang tegang dan
melelahkan.
Herman Lantang, Soe Hok Gie dan Tides Katoppo sekeluarga di Gunung Salak, 1967
Pada
periode Senat Mahasiswa FSUI yang ke-dua 1965-1966, sebagian Oknum
Ormas2 Extra Universiter yang merasa dirinya sebagai pahlawan membentuk
komisariat KAMI di FSUI, disini mereka mendadak mulai vocal seperti
yang terjadi di KAMI pusat.
Pada
mulanya Salemba 6, dikenal sebagai Pusat kegiatan KAMI/DMUI Kesatuan
Aksi Mahasiswa Indonesia yang berangkulan dengan Dewan Mahasiswa
Universitas Indonesia, dimana jacket kuning sangat menonjol, lama2 mulai
dicampur dengan seragam Universtas2 lain, kemudian beralih ke” baju
loreng KAMI”, apalagi ketika dibagi dalam rayon masing2, seperti Rayon
Yani, Haryono, dst.
"Nostalgia Aksi Mahasiswa 1966”: berpose dengan Jacket UI pada Demo Mahasiswa, di jln Rasuna Said-Kuningan. September 2011.
Setelah 11
Maret 1966, perlahan2 golongan Alma Mater”Jacket kuning”
berangsur-angsur balik ke kampus, untuk melanjudkan studi sedangkan
sebagian tinggal , malahan kemudian ada yang mulai berkolaborasi dan
menggabungkan diri dengan penguasa (Pemerintah) sehingga luntur atau
terkontaminasi idealismenya semula.
Ahir
thn 1966, Senat Mahasiswa golongan Alma Mater FSUI dijatuhkan oleh
Koalisi Ormas Extra universiter. Dalam Periode ini Senat Mhsw FSUI
1966-1967, Ketua Senatnya dari PMKRI, Wakilnya dari PMII dan GMKI dan
Sekjennya dari HMI, kerjanya “rapat melulu” sehingga banyak Seksi tidak
jalan atau bubar samasekali.
Periode
berikutnya balik lagi kegolongan Alma mater, dimana Soe Hok-gie
terpilih sebagai Ketua Umum Senat Mahasiswa, dengan Staf yang sedikit
tetapi “efesien”dan berfungsi (lihat lampiran: Pengurus Senat Mhs
periode 1967-1968 dan Surat Bebas G-30 S untuk Herman Lantang untuk
persiapan berangkat ke Papua.)
Senat Mhs periode 1967/1968 dan Surat Bebas G 30-S, (ditanda tangani Soe Hok-gie)
Saat
itu (ahir 1967 s/d awal 1969) aku melakukan tugas Riset untuk
melengkapi persyaratan menjadi S-1, ke Tanah Papua,dan persahabatan kami
hanya bisa dilanjudkan melalui Surat menyurat saja.
(Lihat
kumpulan sebagian Surat2 Soe Hok-gie kepada ku yang sudah
diterbitkan-dalam: Mengenang Seorang Demonstran: Memperingati 30 thn Soe
Hok-gie.-Alumni FSUI/MAPALA-UI. Jakarta 1999)
Walaupun
persahabatan ku dengan Soe Hok-gie hanya berlangsung kurang dari 6
tahun, yaitu sampai ahir hayatnya , tetapi kami telah saling membina
“nilai2 dasar hidup kami” yaitu Takut akan Tuhan dan mencintai Tuhan
serta ciptaanNya. . . mencintai Bangsa dan Tanah Air Indonesia;
Nilai2 Dasar Hidup yang menyangkut iman, moral dan patriotisme,
meliputi nilai2 kepintaran, ketekunan, keberanian, kemurnian,
kejujuran, ketulusan, keterbukaan (antara sesama sahabat) ,
kesederhanaan dan rendah hati, loyalitas , kesetiaan, cinta dan
keindahan.
Adapun
Nilai2 Dasar dalam kehidupan ini sangat mempengaruhi Gaya Hiduku “My
way of Life “(dan banyak Orang lain)-; melalui Tulisan, Pemikiran dan
Teladan yang diberikan Soe Hok-gie semasa hidupnya, yang juga memberi
dampak yang sangat dalam bagi “Para Pengagum Soe Hok-gie”sampai
sekarang walau saat ini ia telah pergi meninggalkan kita lebih dari 43
tahun yang lalu.
HERMAN O. LANTANG: SOE HOK GIE TIDAK SUKA PENGKULTUSAN
![]() |
| Herman Onesimus Lantang |
Di
usianya yang sudah memasuki angka 69, Herman Onesimus Lantang masih
terlihat segar dan bersemangat. Maklum, lelaki Minahasa yang memiliki
sorot mata tajam itu, hingga kini masih betah mengakrabi hobinya di masa
muda: naik gunung. Bahkan bukan saja dalam aktifitas, gaya bicara opa
satu ini masih meledak-ledak, cuek namun egaliter, sebuah sikap khas aktivis pecinta alam.
Herman memang tidak setangkas dulu lagi. Jalannya sekarang agak pelan. Dalam sebuah pendakian beberapa lalu, ia jatuh hingga menyebabkan kaki sebelah kirinya patah. “Ya beginilah gua sekarang, sementara ini kemana-mana harus pake tongkat,”kata mantan Ketua Mahasiswa Pecinta Alam UI dan bekas Ketua Senat Fakultas Sastra UI era 60-an itu.
Banyak orang mengatakan, Herman adalah saksi hidup penting atas peristiwa kematian karibnya Soe Hok Gie di Gunung Semeru tepat 40 tahun lalu. Dan menurutnya, sang demonstran yang juga intelektual muda itu memang persis meninggal di pangkuannya. Karena situasi itu, ia malah sempat dicurigai polisi sebagai “pembunuh” Soe. Bisa jadi itu terkait rumor yang beredar sebelum mereka berangkat ke Semeru yang menyatakan bahwa Soe tengah “diincar” salah satu klik dalam tubuh tentara gara-gara tulisan-tulisannya.
Seperti apa rekontruksi kejadian tragis 40 tahun lalu itu sebenarnya? Lantas apa komentar Herman mengetahui sosok Soe yang kini telah menjadi ikon (bahkan nyaris dikultuskan) oleh sebagian anak muda? Inilah hasil obrolan saya dengan Si Jenderal Kepala Batu (julukan Soe untuk Herman) itu pada Rabu siang kemarin (16/12) di Kampus UI Depok.
Kegiatan anda sekarang apa saja Bang Herman?
Ya macam-macamlah. Sebenarnya tidak ada kegiatan khusus yang gua kerjakan. Paling banter ya gua naik gunung-gunung yang ada di Indonesia khususnya yang ada di Jawa. Selain itu gua juga sering diundang untuk jadi nara sumber soal-soal kepecintaalaman
40 tahun sudah Soe Hok Gie pergi, bagaimana perasaan anda sebagai karibnya menyaksikan anak-anak muda sekarang banyak yang memuja dia?
Jujur aja, gua sangat bangga dengan dia. Gua enggak menyangka, begitu besarnya pengaruh Hok Gie hari ini kepada anak-anak muda. Mungkin karena zaman sekarang informasi begitu cepat bisa didapatkan, bisa lewat film, buku, internet, tv dan lain-lain. Mudah-mudahan saja, mereka (anak-anak muda pengangum Ho Gie) tidak sebatas mengidolakan saja tapi juga bisa mempraktekan apa-apa yang pernah dibuat Hok Gie buat bangsa ini.
Orang tahu Bang Herman itu kawannya Soe, tapi persisnya seperti apa sih persahabatan di antara anda dengan Soe sebenarnya?
Gua sangat dekat dan bisa dikatakan teman karib dengan dia. Tapi untuk urusan politik, gua enggak ikut-ikutan. Jujur saja, gua buta politik. Orang bilang Hok Gie agak “kiri” bahkan komunis, gua enggak tahu dan enggak perduli. Hubungan gua ama dia, sepenuhnya betul-betul soal persahabatan antara dua manusia, bukan soal-soal lain.
Bagaimana bisa anda buta politik, sedangkan pada 1965-1966, anda pernah jadi Ketua Senat Fakultas Sastra UI?
Hahahaha. Ya orang bilang gua ini cuma menang penampilan doang dan bisa meraih banyak massa. Kalau otaknya ya Si Hok Gie itu. Dia banyak back up, saat gua jadi Ketua Senat FS UI.
Dalam buku hariannya (yang kelak diterbitkan dengan judul Catatan Seorang Demonstran), Soe mengakui pamor Herman Lantang di kalangan mahasiswa Fakultas Sastra. Dia menyebut Herman sebagai orang yang dianugerahi penampilan kharismatik.
Kalau Soe jadi otak anda, jangan-jangan selama itu justru Bang Herman “ditunggangi” Soe…
Enggaaaak dong! (nada suaranya meninggi). Lo pikir gua enggak punya prinsip sendiri? Hubungan gua sama Hok Gie itu adalah hubungan yang dilandasi persahabatan dan kepercayaan. Terlebih dalam berbagai soal, gua memiliki pandangan yang sama dengan dia. Enggak ada itu tunggang menunggangi. Gua cocok ama dia, dia cocok ama gua. Itu saja.
Ok. Bang Herman bagaimana komentar anda melihat karib anda itu sekarang telah menjadi “idola” baru?
Gua sih senang-senang saja. Tapi ya jangan keterlaluan. Kalau sudah mengkultuskan, itu yang salah. Gua enggak suka dan gua yakin Soe juga tidak suka. Yang harus ditiru dari Soe itu keberanian, kejujuran, kesederhanaan dan kepintaran dia. Bukan personnya.
Kabarnya waktu detik-detik Soe akan meninggal di Puncak Mahameru, anda adalah sahabat satu-satunya yang ada di dekatnya?
Ya itu kebetulan saja. Dia memang meninggal di pangkuan gua.
Katanya juga gara-gara soal ini, Bang Herman sempat dicurigai oleh Polisi?
Ya pas turun gua sempat dicecar sama 2 perwira polisi. Mereka sempat curiga kematian Soe dan Idhan (Idhan Lubis) sebagai hasil pembunuhan berlatarbelakang konspirasi politik (mengingat aksi-aksi dan tulisan-tulisan Soe yang sarat kritik di koran-koran).
Anda tentu saja menyangkal?
Ya terang dong. Gua bicara keras kepada mereka soal kecurigaan itu. Pembunuhan berlatar belakang konspirasi politik? Gua aja enggak tahu itu jenis binatang apaan?
Mereka percaya?
Gua enggak tahu, tapi mereka berlagak seakan-akan tidak mengerti bahasa Indonesia.Tapi ya akhirnya gua bebas juga dari interogasi.
Terakhir Bang Herman, andaikan Soe masih hidup sekarang, anda yakin dia akan terus konsisten memegang prinsip-prinsipnya?
Gua yakin dia akan melakukannya. Tapi ya itu hidupnya akan seperti Arief (Arief Budiman, kakak Soe Hok Gie yang juga juga intelektual dan mantan demonstran anti korupsi): selalu diasingkan dan hidup terpencil karena selalu mengajak kekuasaan untuk selalu berantem.
Herman memang tidak setangkas dulu lagi. Jalannya sekarang agak pelan. Dalam sebuah pendakian beberapa lalu, ia jatuh hingga menyebabkan kaki sebelah kirinya patah. “Ya beginilah gua sekarang, sementara ini kemana-mana harus pake tongkat,”kata mantan Ketua Mahasiswa Pecinta Alam UI dan bekas Ketua Senat Fakultas Sastra UI era 60-an itu.
Banyak orang mengatakan, Herman adalah saksi hidup penting atas peristiwa kematian karibnya Soe Hok Gie di Gunung Semeru tepat 40 tahun lalu. Dan menurutnya, sang demonstran yang juga intelektual muda itu memang persis meninggal di pangkuannya. Karena situasi itu, ia malah sempat dicurigai polisi sebagai “pembunuh” Soe. Bisa jadi itu terkait rumor yang beredar sebelum mereka berangkat ke Semeru yang menyatakan bahwa Soe tengah “diincar” salah satu klik dalam tubuh tentara gara-gara tulisan-tulisannya.
Seperti apa rekontruksi kejadian tragis 40 tahun lalu itu sebenarnya? Lantas apa komentar Herman mengetahui sosok Soe yang kini telah menjadi ikon (bahkan nyaris dikultuskan) oleh sebagian anak muda? Inilah hasil obrolan saya dengan Si Jenderal Kepala Batu (julukan Soe untuk Herman) itu pada Rabu siang kemarin (16/12) di Kampus UI Depok.
Kegiatan anda sekarang apa saja Bang Herman?
Ya macam-macamlah. Sebenarnya tidak ada kegiatan khusus yang gua kerjakan. Paling banter ya gua naik gunung-gunung yang ada di Indonesia khususnya yang ada di Jawa. Selain itu gua juga sering diundang untuk jadi nara sumber soal-soal kepecintaalaman
40 tahun sudah Soe Hok Gie pergi, bagaimana perasaan anda sebagai karibnya menyaksikan anak-anak muda sekarang banyak yang memuja dia?
Jujur aja, gua sangat bangga dengan dia. Gua enggak menyangka, begitu besarnya pengaruh Hok Gie hari ini kepada anak-anak muda. Mungkin karena zaman sekarang informasi begitu cepat bisa didapatkan, bisa lewat film, buku, internet, tv dan lain-lain. Mudah-mudahan saja, mereka (anak-anak muda pengangum Ho Gie) tidak sebatas mengidolakan saja tapi juga bisa mempraktekan apa-apa yang pernah dibuat Hok Gie buat bangsa ini.
Orang tahu Bang Herman itu kawannya Soe, tapi persisnya seperti apa sih persahabatan di antara anda dengan Soe sebenarnya?
Gua sangat dekat dan bisa dikatakan teman karib dengan dia. Tapi untuk urusan politik, gua enggak ikut-ikutan. Jujur saja, gua buta politik. Orang bilang Hok Gie agak “kiri” bahkan komunis, gua enggak tahu dan enggak perduli. Hubungan gua ama dia, sepenuhnya betul-betul soal persahabatan antara dua manusia, bukan soal-soal lain.
Bagaimana bisa anda buta politik, sedangkan pada 1965-1966, anda pernah jadi Ketua Senat Fakultas Sastra UI?
Hahahaha. Ya orang bilang gua ini cuma menang penampilan doang dan bisa meraih banyak massa. Kalau otaknya ya Si Hok Gie itu. Dia banyak back up, saat gua jadi Ketua Senat FS UI.
Dalam buku hariannya (yang kelak diterbitkan dengan judul Catatan Seorang Demonstran), Soe mengakui pamor Herman Lantang di kalangan mahasiswa Fakultas Sastra. Dia menyebut Herman sebagai orang yang dianugerahi penampilan kharismatik.
Kalau Soe jadi otak anda, jangan-jangan selama itu justru Bang Herman “ditunggangi” Soe…
Enggaaaak dong! (nada suaranya meninggi). Lo pikir gua enggak punya prinsip sendiri? Hubungan gua sama Hok Gie itu adalah hubungan yang dilandasi persahabatan dan kepercayaan. Terlebih dalam berbagai soal, gua memiliki pandangan yang sama dengan dia. Enggak ada itu tunggang menunggangi. Gua cocok ama dia, dia cocok ama gua. Itu saja.
Ok. Bang Herman bagaimana komentar anda melihat karib anda itu sekarang telah menjadi “idola” baru?
Gua sih senang-senang saja. Tapi ya jangan keterlaluan. Kalau sudah mengkultuskan, itu yang salah. Gua enggak suka dan gua yakin Soe juga tidak suka. Yang harus ditiru dari Soe itu keberanian, kejujuran, kesederhanaan dan kepintaran dia. Bukan personnya.
Kabarnya waktu detik-detik Soe akan meninggal di Puncak Mahameru, anda adalah sahabat satu-satunya yang ada di dekatnya?
Ya itu kebetulan saja. Dia memang meninggal di pangkuan gua.
Katanya juga gara-gara soal ini, Bang Herman sempat dicurigai oleh Polisi?
Ya pas turun gua sempat dicecar sama 2 perwira polisi. Mereka sempat curiga kematian Soe dan Idhan (Idhan Lubis) sebagai hasil pembunuhan berlatarbelakang konspirasi politik (mengingat aksi-aksi dan tulisan-tulisan Soe yang sarat kritik di koran-koran).
Anda tentu saja menyangkal?
Ya terang dong. Gua bicara keras kepada mereka soal kecurigaan itu. Pembunuhan berlatar belakang konspirasi politik? Gua aja enggak tahu itu jenis binatang apaan?
Mereka percaya?
Gua enggak tahu, tapi mereka berlagak seakan-akan tidak mengerti bahasa Indonesia.Tapi ya akhirnya gua bebas juga dari interogasi.
Terakhir Bang Herman, andaikan Soe masih hidup sekarang, anda yakin dia akan terus konsisten memegang prinsip-prinsipnya?
Gua yakin dia akan melakukannya. Tapi ya itu hidupnya akan seperti Arief (Arief Budiman, kakak Soe Hok Gie yang juga juga intelektual dan mantan demonstran anti korupsi): selalu diasingkan dan hidup terpencil karena selalu mengajak kekuasaan untuk selalu berantem.
TEKNIK NAVIGASI HANYA DENGAN MENGGUNAKAN KOMPAS
Ini
merupakan pengetahuan yang mudah, dan bisa dikatakan tidak cukup untuk
mengadakan perjalanan yang aman di daerah yang tidak dikenal. Hal
pertama yang hatus dimengerti adalah ARAH. Utara, Selatan, dan Barat.
Perhatikan kompas anda dan pelajari bagaimana sudut Utara merupakan
sesuatu yang sangat penting.
Ada banyak macam kompas, ada yang
pemakaiannya dengan menempelkan pada peta dan ada juga yang pemakaiannya
dengan memempelkan pada ibu jari kita. Kompas ibu jari (kompas bidik)
banyak dipakai oleh para orienteer yang selalu bergerak cepat, dan jenis
kompas ini yang biasanya normal dipakai. Tapi ini bukanlah hal yang
tutorial.
MENGENAL BAGIAN KOMPAS.Temukan panah yang berwana merah
dan hitam, yang disebut juga jarum kompas. Dan dibeberapa jenis kompas
lain ada yang berwarna merah dan putih. Tapi itinya, bagian yang merah
selalu menunjukan arah magnetik bumi yaitu kutup utara. Hal dasar inilah
yang harus dipahami terlebih dahulu. Dan bagaimana caranya jika tujuan
kita bukan ke Utara, tapi arah lain? jawabnya simple saja, yaitu pada
bagian kompas terdapat bagian yang bisa diputar yang disebut juga rumah
kompas. Pada bagian atas sisi dari rumah kompas akan ditemukan skala
yang menunjukan angka 0 sampai 360 atau dari 0 samapai 400. Itu semua
adalah sudut derajat atau bearing dan kita juga akan menemukan huruf
abjad N, S, W dan E yang diartikan sebagai North (Utara), South
(Selatan), West (Barat) dan East (Timur). Jika kita hendak menuju kearah
diatara dari dua arah diatas, yang dilakukan adalah
mengkombinasikannya. Misalnya kita akan menuju kearah diatara Utara dan
Barat yaitu Barat Laut: yang dilakukan adalah, temukan sudut barat Laut
pada rumah kompas, dan putar rumah kompas sehingga sudut barat Laut
berada persis diatas ujung penunjuk arah pada rumah kompas. Peganglah
kompas secara datar dengan begitu jarum kompas bisa berputar bebas,
kemudian putarlah tubuh dan tangan sehingga bagian utara dari jarum
kompas yang berwarna merah menempel sama dengan bagian utara pada rumah
kompas. Hati-hati karena bagian ini sangat penting untuk diperhatikan.
Jika sudut selatan jarum kompas yang menempel pada utara rumah kompas,
maka artinya kita berjalan pada arah berlawanan dari arah yang kita
tuju. perhatikan hal ini karena banyak pemula yang melakukan kesalahan
pada bagian ini. Jadi selalu perhatikan untuk memastikan posisi kita
sudah benar.
Prolem kedua yang kita sebut dengan local magnetic attraction.
Jika
kita membawa sesuatu benda yang mengandung besi, hal ini akan
memungkinkan terganggunya jarum kompas. Bahkan staple pada peta akan
memungkinkan terganggunya jarum kompas. Pastikan tidak adanya hal
sejenis diatas disekeliling kompas. Hal lain yang memungkinkan
terjadinya gangguan magnetik pada tanah yang disebut juga magnetic
deviation, tapi hal ini jarang terjadi. Hal ini akan mungkin terjadi
jika kita berada pada wilyah penambangan mineral yang mengandung biji
besi. Jika kita sudah yakin pada posisi yang benar, berjalanlah pada
arah yang ditunjukan oleh ujung penunjuk arah pada rumah kompas. Untuk
menghindari keluar dari jalur, pastikan untuk selalu mengawasi kompas
secara kontinyu, katakan saja setiap seratus meter kita cek selalu
posisi kompas. Tapi ini kadang cukup melelahkan untuk menunduk terus,
jalan keluarnya adalah temukan sesuatu objek yang jelas dan gampang
dikenal pada jalur lintasan kita dan pergilah menuju titik tersebut dari
sana kemudian lakukan lagi hal yang sama dan jangan sampai menyimpang
dari titik koordinat lintasan kita. Tapi hal ini akan lebih penting lagi
bila kita mempunyai peta. Ada hal yang harus diperhatikan untuk
menghindari menuju arah yang salah, yaitu : Matahari, pada sore hari
matahari kira-kira berada di Selatan (atau di Utara pada wilayah
sounthern hemisphere), jadi jika anda menuju arah utara dan mendapatkan
sinar matahari pada wajah, itu artinya anda harus melakukan penentuan
arah lagi.
KAPAN KITA MEMERLUKAN TEHNIK KOMPAS INI?
Jika kita
berada dialam terbuka tanpa peta, dan kita tidak tahu berada dimana,
tapi kita mengetahui adanya jalan, trail, kali kecil , sungai atau
sesuatu yang besar atau panjang yang mudah dikenali jika kita menuju
arah yang benar. Dan kita mengetahui arah mana yang harus ditempuh,
setidak-tidaknya kira-kira kearah mana. Kemudian yang perlu dilakukan
adalah, arahkan penujuk arah pada rumah kompas ke arah yang akan dituju
kemudian putarlah rumah kompas sehingga jarum kompas yang berwarna merah
menempel sama dengan bagian utara rumah kompas. Ikutilah langkah
tersebut diatas, akan tetapi hal ini saja tidak cukup, karena tidak
begitu akurat. kita menuju arah yang benar, dan tidak akan
berputar-putar, tapi ini merupakan keberuntungankarena kita menemukan
titik yang bisa dikenali pada lintasan ini. Karena itulah hal deklinasi
tidak dibahas. Karena deklinasi merupakan hal yang berhubungan dengan
penggunaan peta. Tapi jika kita bisa mengimajinasikan peta dan tahu apa
itu peta, lakukanlah hal tersebut. Tapi rasa kita tidak akan begitu
akurat jadi deklinasi tidak membuat sesuatu yang berbeda. Jika kita
melakukan perjalanan panjang pada medan yang tidak dikenal, kita harus
selalu membawa peta yang baik yang mengambarkan wilayah tujuan kita.
Terlebih lagi jika kita meninggalkan jalan setapak, ini akan lebih
membuat penggunakan kompas dan peta lebih interaktif, dan pada saat
itulah kompas akan mejadi sesuatu yang sangat berharga.
TIPE DARI KOMPAS
Kompas
yang baik mempunyai rumah kompas yang berisi cairan, cairan tersebut
menahan jarum kompas, sehingga kita tidak harus terlalu memeggang kompas
dengan posisi yang betul-betul diam. Hindarilah membeli kompas yang
tidak mempunyai cairan dalam rumah kompasnya.
Jarum kompas mempunyai
dua warna, jika kompas dipegang rata, bagian merah akan mengarah ke
utara dan yang putih kearah selatan. Hal yang menarik adalah adanya
nothern dan southern hemisphere kompas. Ini merupakan keharusan karena
adanya fakta akan bidang garis magnetik, yang mana tempat terpasangnya
jarum kompas, menunjukan sudut bumi pada kutup magnetik utara dan
selatan. Pada northern hemisphere bagian ujung utara dari jarum kompas
tertarik kearah bawah, dan ujung utara merupakan pengantisipasi
keseimbangan jarum kompas. Jika kita menggunakan northern hemisphere
kompas, katakan saja Australia, bagian ujung utara magnet akan tertarik
kearah bawah dari bidang magnetik, dan juga lebih berat dari pada ujung
utara - hal ini membuat jarum kompas terarah dan berpindah pada bagian
bawah dari rumah kompas jika compas di pegang horisontal. Kompas yang
baik akan bertahan lama. akan tetapi, kadang-kadang ada suatu hal yang
tidak beres pada kompas, komponen plastiknya rusak, atau rumah kompasnya
bocor. Dalam waktu yang panjang, cairan dalam rumah kompas mungkin akan
berubah warna menjadi biru kehijauan. Dan sangat jarang bidang magnetik
dari jarum kompas berubah, misalnya ujung utara erubah menjadi ujung
selatan.
ADA DUA MACAM KOMPAS ORIENTEERING.
1.BASE PLATE ATAU PROTRACTOR COMPASS
Jenis
kompas ini dikembangkan oleh Kjellstrm bersaudara dimasa era perang
dunia ke II dan terdiri dari piringan dasar bersegi empat, yand diberi
tanda dengan anah panah merah yang menunjukan arah axis, dan rumah
kompas yang bisa diputar diberi tanda dengan sudut (360 derajat untuk
lingkaran penuh dari keseluruhan dunia, tapi hanya 400 pada beberapa
kompas Eropah). Pada bagian dasar dari rumah berputar dari kompas diberi
tanda dengan panah dan set garis paralel pada tandah panah tersebut.
Sebagai tambahan kadang juga ada tali untuk mengikatkan kompas pada
pergelangan tangan, sisi penggaris dengan ukurannya untuk digunakan
mengukur jarak pada peta, kaca pembesar untuk membaca peta lebih baik
dan contoh dari lingkaran serta segitiga untuk membuat tanda yang
digunakan kursus orieentaring pada peta.
2. THUMB COMPASS (kompas jempol)
Pada
pertengahan tahun 1980'an, top Swedia orienteer membuat alternatif pada
kompas type dasar piringan dengan menipiskan dasar piringannya dan
menempatkan strap pada kompas yang nantinya akan dipakai pada ibu jari.
Kompas ini dipakai pada ibu jari tangan kiri, yang melekatkannya pada
peta. Kelebihan dari system ini adalah peta dan kompas selalu dibaca
sebagai satu unit, peta lebih gampang dan lebih cepat diluruskan,
ditambah lagi tangan yang satunya bebas, kekurangannya adalah karena
kakuratannya membuat agak sulit pada bearing. Kecendrungan pribadi
biasanya memutuskan type kompas yang dipakai; pemedang kejuaraan dunia
orienteering telah menang dengan menggunakan kedua type kompas diatas.
Ada dua basic skill yang diperlukan oleh orienteer yaitu, Peta Orienting dan Menghitung Bearing.
MENGGUNAKAN KOMPAS UNTUK ORIENTASI PETA
Ini merupakan keahlian yang mudah, dan juga merupakan hal penting pada penggunaan kompas. sbb:
Peganglah peta secara horisontal
Letakan kompas diatas bidang datar peta
Putar
peta sampai garis utara pada peta (bisa ditemukan dua garis lurus
berujung panah yang menunjukan utara magnetik atau bagian atas dari
abjad yang terdapat di peta adalah utara peta) sampai sama dengan utara
kompas.
Sekarang peta sudah terorientasi pada medan. Ini membuatnya lebih mudah dibaca
MENGHITUNG BEARING
Setiap
arah bisa dinyatakan sebagai sudut yang terhubung dengan utara. Pada
militer ini disebut "Azimuth" dan bearing dinyatakan sebagai jumlah
derajat. Orienteer menggambil jalan keluar yang gampang, dengan
mensetting sudut pada kompasnya dan menjaga jarum kompasnya, dan ini
membuat mereka tetap bergerak pada arah yang benar. Instruksi
langkah-langkah mudah cara mengeset bearing ada pada dasar kompas type
baseplate adalah:
Letakan kompas diatas peta penunjuk arah mengarah kearah tujuan kita.
Putar
rumah kompas sehingga tanda panahnya yang terdapat pada dasar
plastiknya paralel dengan panah yang tegambar pada peta (pastikan mata
anak panahnya mengarah ke utara bukan selatan).
Pisahkan kompas dengan peta dan pengganglah peta didepan kita jadi dengan begitu arah perjalanan kita terbentang didepan kita.
Putarlah tubuh sehingga jarum kompas tepat pada tanda panah didasar rumah kompas.
Pilihlah
sebuah objek jelas didepan kita yang terletak dijalur perjalanan kita,
ulangi prose ini(cara ini kita bisa memutari rintangan dan tetap berada
pada jalur bearing kita).
SEBERAPA PENTINGNYA SEBUAH KOMPAS?
Peralatan
yang paling penting yang digunakan pada orienteering adalah otak
manusia. Satu peralatan lain yang diijinkan dan digunakan secara general
yaitu: Kompas. Kompas sangat berguna sebagai penghitung bearing dan
untuk orientasi peta, sehingga membuat peta cocok dengan medan. Tapi
mungkin, di hampir banyak area, untuk melakukan sebuah jalur sangat
mudah dan efisien tanpa kompas (sebagai pengecualian: akan sangat sulit
untuk bernavigasi pada area yang kurang tanda-tanda alamnya tanpa
kompas). Hanya kompas yang legal digunakan pada orienteering. Altimeter
sangat dilarang dan GPS unit termasuk yang dilarang oleh peraturan.
Sudah merupakan pernyataan yang jelas kalau GPS unit sangat berguna dan
alat yang sangat menolong, tapi saat dipertanyakan bagaimana bila setiap
orienteer mengunakan GPS unit dalam setiap perlombaan? orienteering
merupakan hal yang tidak menarik lagi. Bagi pemula dalam orienting,
wajib dan perlu mengenal pengetahuan dasar kompas dan piawai dalam
membaca peta.
MEMAKAI KOMPAS DALAM SUATU INTERAKSI DENGAN PETA
Ini
merupakan pelajaran yang sangat penting, dan harus kita ketahui secara
baik. Bila kita menggunakan kompas dan peta, maka akan terasa sekali
kegunaan kompas, dan kita akan bisa bernavigasi di medan yang tidak
dikenal dengan lebih akurat walaupun tanpa mengikuti jalan setapak. Tapi
ini membutuhkan latihan dan pengalaman, disini kita tidak membahas
secara khusus mengenai peta, sebab hal tersebut bisa anda dapatkan pada
subjek lain di situs ini. Tapi pelajaran ini akan lebih bermafaat jika
kita juga mempunyai kemampuan merasakan apa yang dikatakan oleh peta.
Kembali ke pelajaran kompas.
Pada
prinsipnya pelajaran ini sama dengan yang sebelumnya, kita akan
menggunakan peta untuk mengetahui yang benar dan bukan berdasarkan
intuisi kita.
Pegang Peta: Pada contoh kita yang pertama, kita
perhatikan peta yang dibuat untuk orintasi, dan ini sangat jelas???
sebenarnya tidak juga, mari kita lihat peta yang kita buat secara fiktif
dalam imaginasi kita.
Menuju Titik: Kita akan bergerak dari
jalan setapak melintasi titik A ke arah batu di B. Tentu saja untuk
membuat metode ini bisa berhasil kita harus tahu betul posisi kita di
titik A tersebut. Apa yang kita lakukan? letakan kompas diatas peta
sehingga sisi dari kompas ada pada titik A. Sisi tersebut harus kita
gunakan, sisi tersebut harus paralel dengan arah dari panah penunjuk
arah perjalanan. Dan kemudian tempatkan titik B disuatu tempat
disepanjang sisi yang sama, gambarannya seperti itu. Tentu saja, kita
bisa menggunakan panah penunjuk arah tersebut, atau satu dari garis
paralel, tapi biasanya, lebih mudah menggunakan sisi. Pada titik ini,
beberapa instruktor mengatakan bahwa kita harus menggunakan pencil dan
menggambarkan garis sepajang arah kita. Tapi sebaiknya jangan, pertama,
ini membutuhkan waktu, kedua, jika kita mendapatkan cuaca yang basah,
akan membuat rusak peta kita, atau jika berangin, kita mungkin akan
kehilangan peta tersebut. Kita harus menyimpan peta (sebaiknya dalam
kantong anti air) yang transparan. Dan jika berangin ikatkan pada lengan
atau ransel kita. Yang paling penting adalah jika kita menggambarkan
terlalu banyak garis pada peta, iniakan membuat kita akan kehilangan
hal-hal yang detail pada peta tersebut.
Saatnya untuk
berhati-hati: Sisi dari kompas, atau juga panah penunjuk arah, harus
mengarah dari titik A ke B. dan lagi, jika kita melkukannya dengan
salah, kita akan melangkah kearah yang berlainan dari arah yang
seharusnya kita tuju. Jadi selalu periksa lagi, para pemula kadang
membuat kesalahan pada point ini.
Jaga dan tempatkan kompas
selalu stedy pada peta: Apa yang akan kita lakukan selanjutnya adalah
kita harus meluruskan garis orientasi dan panah orientasi dengan garis
meridian peta. Garis pada peta menuju Utara, jadi, saat kita meluruskan
sisi kompas dengan hati-hati dari A ke B, putar rumah kompas sehingga
garis orientasi pada rumah kompas sejajar dengan garis meridien peta.
Selama proses ini, jangan perdulikan apa yang terjadi pada jarum kompas.
Ada beberapa kesalahan serius yang bisa terjadi disini. Mari kita ambil
masalah tersebut dengan mengambil arah lawannya terlebih dahulu. Kita
harus benar-benar mengerti dimana utara pada peta, dan benar-benar yakin
kalau panah orientasi mengarah kearah utara pada peta. Normalnya, utara
adalah bagian atas dari peta. Kesalahan yang mungkin terjadi adalah
membiarkan panah orientasi mengarah ke arah selatan dari peta.
Dan
kemudian, perhatikan sisi dari kompas: Jika sisinya mengarah sepanjang
garis dari A ke B maka saat kita selesai memutar rumah kompas, kita akan
mendapatkan kesalahan pada arah kita, dan bisa membuat kita keluar dari
jalur. Jika kita yakin menggunakan rumah kompas dengan benar, kita bisa
memisahkan kompas dengan peta. Dan sekarang, kita bisa dengan nyata
membaca bering dari rumah kompas, dari arah dimana rumah kompas bertemu
dengan panah penujuk arah. Yakinkan jika rumah kompas tidak berputar,
sebelum kita mencapai titik B. Langkah terakhir adalah sama dengan
pelajaran sebelumnya. Pegangalah kompas pada tangan. Dan sekarang kita
harus memegannya sedatar mungkin, sehingga jarum kompas bisa bebas
berputar. Lalu putarlah tubuh kita sehingga jarum kompas sejajar dengan
garis didalam rumah kompas. Kesalahan lagi jika kita membiarkan jarum
kompas mengarah ke selatan. Bagian merah dari jarum kompas harus
menunjukan arah utara pada rumah kompas, atau kita akan bergerak kearah
yang berlawanan.
Saatnya untuk bergerak: Tapi untuk melakukan itu
dengan akurasi yang optimal, kita harus melakukannya dengan cara yang
special juga. Peganglah kompas ditangan, dengan jarumnya sejajar dengan
arah panah orienting, kemudian bidik sasaran sehati-hati mungkin, pada
arah menunjuk ke arah dari panah perjalanan. Carilah sesuatu yang bisa
dijadikan tanda di medan yang dituju, dan berjalanlah kearah sana. Saat
bergerak pastikan bahwa rumah kompas tidak berputar. Jika kita di hutan
yang rapat, kita harus selalu mencari arah beberapa kali. Dengan cara
ini diharapkan kita bis mencapai titik B dengan selamat. Akan tetapi,
kadang-kandang atau sering juga terjadi apa yang disebut dengan magnetic
declination.
MENENTUKAN ARAH TANPA KOMPAS
Kita tersesat,
benar-benar tersesat. Berdiri disuatu tempat yang tidak kita ketahui,
dan kita tidak tahu harus kemana. Kita dalam masalah, hal yang pertama
yang harus diingat adalah, Tetap tenang, berpikir rasional, dan kita
bisa bertahan dalam waktu lama tanpa makan. Yang kita butuhkan adalah
air. Hal yang lebih detail tentang survival ada pada bagian lain dari
situs ini. Disini hanya membahas bagaimana menghadapi situasi mencari
jalan tanpa kompas. Apa yang kita punya adalah, matahari, bintang, dan
alam disekeliling kita. Halaman ini lebih membahas bagian dari northern
hemisphere dari bumi, utara sebenarnya 23.5° , akan tetapi metode yang
dijelaskan disini juga bisa berlaku di southern hemisphere, tapi
dibeberapa tempat mungkin perlu untuk menukar utara jadi selatan agar
menjadi benar. Sangat diharapkan agar kita bisa memahaminya.
Sebagai
permulaan: Mungkin akan merupakan ide yang bagus untuk mendaki keatas
bukit, dan melakukan orientasi pada alam sekeliling. Cobalah untuk
mencari tanda-tanda dari kehidupan manusia. Jika tidak menemukan
apa-apa, kita harus mencoba menemukan arah yang baik untuk memulai
pergerakan. jika kita tidak mempunyai peta, cobalah menggambarnya jika
kita bisa memandang medan didepan kita, dan cobalah menandai dimana
utara dengan cara menggunakan metode dibawah. Jika kita mempunyai peta,
cobalah untuk menentukan dimana kita berada, Ingat, kita tidak harus
mendaki lagi bukit yang seharusnya tidak kita daki. Juga kita harus
hati-hati untuk tidak mendaki dan memboroskan energi karena kita sudah
sangat lelah. Pada saat seperti ini kita seharusnya tetap berada dimana
kita berada. Cara mencari perhatian untuk bantuan ada pada bagian
survival pada situs ini.
Mari kita mulai dengan metode yang paling akurat:
Pada
metode ini sangat dibutuhkan langit dalam keadaan cerah, dan
membutuhkan banyak waktu. Salah satu dari keuntungannya adalah kita
tidak membutuhkan peralatan apapun. Yang diperlukan hanyalah sebuah
tongkat kira-kira dengan panjang 1 meter, dua tongkat kecil atau batu.
tongkat lain atau batu yang perlu sedikit diruncingkan dan sesuatu yang
bisa dipakai sebagai tali.
Pagi hari, atau paling tidak sebelum
siang, trik dimulai: Tancapkan tongkat yang panjang diatas tanah. Dan
tanah disekitar tongkat harus datar. Sekarang, kita bisa meletakan salah
satu tongkat kecil diatas tanah persis dimana ujung bayangan dari
tongkat. Kemudian ikatkan tali pada dasar dari tongkat, dan ikat juga
tongkat yang kecil pada masing-masing ujungnya
Mendaki Gunung Adalah Hobiku
Mendaki Gunung Adalah Tentang Kebebasan karena mendaki gunung biasanya
identik dengan kegiatan para pecinta alam. Menembus badai, mencari jejak
dengan satu tujuan, yakni puncak! Dan pada masa kini dan mungkin masa
kedepan, banyak orang mendaki gunung dengan berbagai macam tujuan.Sebenarnya saya merasa kurang beruntung karena tidak dilahirkan lebih awal untuk menikmati indahnya mendaki gunung. Mendengar cerita dari orang - orang yang lebih awal dilahirkan, mendaki gunung itu memiliki satu kepuasan tersendiri ketika telah sukses mencapai puncak. Mereka bercerita banyak hal tentang membuat jalur menuju puncak, mendaki tebing karena tidak mendapat jalur yang lebih nyaman, terperosok ke dalam jurang karena salah mengambil jalur, hingga tersesat berhari - hari di dalam hutan karena salah perhitungan. Dulu mendaki gunung itu benar - benar untuk mencari ketenangan, ketegangan dan kepuasan. Belum ada jalur yang dipastikan benar, atau mungkin setiap jalur itu adalah benar. Itu dulu ketika para pencinta alam sangat identik dengan kebebasan.
![]() |
| Gema Arga Nusa Gunung Merapi 240513 |
Namun rasa kurang beruntung itu salalu tertutupi ketika saya sendiri sedang berada di alam bebas. Kurang beruntung itu selalu tertutupi oleh rasa syukur, karena sekarang mendaki gunung itu bukan hanya tentang ketenangan, ketegangan, dan kepuasan. Tapi tentang rasa nyaman dan syukur tanpa meninggalkan tiga hal di atas. Selalu banyak tanya yang menghampiri ketika sedang berada di gunung. Dan tanya itu selalu terjawab ketika telah berada di puncaknya. Walaupun kadang ada beberapa puncak yang mengecewakan karena banyaknya sampah yang ditinggalkan oleh pendaki sebelumnya.
Saat ini banyak sekali orang - orang yang mengaku sebagai pecinta alam yang karena dibajunya terdapat logo himpunan atau organisasi pecinta alam. Bahkan karena mereka pernah mendaki satu gunung, mereka dengan bangga menyebut dirinya sebagai pecinta alam. Benarkah mereka pecinta alam? Hanya alam yang bisa menilai.
Sebenarnya apa sih pecinta alam? Saya sendiri tidak bisa mendeskripsikan apa itu pecinta alam, karena saya pun bukan pecinta alam. Mungkin saya lebih memilih menyebut diri saya sebagai penggiat alam. Karena saya mendaki gunung hanya sebatas untuk menghilangkan penat dan mencari ketenangan.
Lalu bagaimana dengan mereka para " pecinta alam"? Entahlah, itu urusan pribadi masing - masing. Karena menurut saya pecinta alam itu hanya sebatas nama untuk dituliskan di lembar kertas ketika menyerahkan proposal untuk mencari dana suatu ekspedisi. Kata pecinta alam itu pupus sudah ketika sudah memasuki alam bebas karena mereka para pecinta alam adalah sama - sama orang yang ingin bebas dari belenggu sebuah nama.
Terlepas dari pecinta alam, organisasi, himpunan, Sispala, Mapala, ataupun komunitas dan tanpa mengurangi hormat kepada mereka yang telah disebutkan sebelumnya. Mendaki gunung itu seharusnya tanpa misi. Karena mendaki gunung itu untuk mencari kebebasan. Untuk melepaskan rasa egois terbang bersama angin. Dan mendaki gunung itu sebenarnya bukan tentang mencapai puncak. Tapi tentang menjalin persaudaraan dan saling mengerti. Mendaki gunung itu bukan tentang mebuang - buang waktu. Tapi tentang menyusun bagaimana cara terbaik membunuh waktu. Mendaki gunung itu bukan tentang mendapat panggilan si gagah. Tapi tentang mencari cara membunuh rasa takut. https://www.facebook.com/surya.m.vanpesie
Jadi, mendaki gunung itu adalah tentang kebebasan.
Burung Pemandu Pendaki Gunung Lawu
Mitos burung Jalak Lawu, nyaring
bergaung di telinga masyarakat kaki Gunung Lawu. Konon, burung jalak
berwarna kelabu ini sering muncul di depan pendaki. Bahkan, satwa ini
diyakini bakal pengantar pendaki hingga ke Argo Dumilah, Pucak Gunung
Lawu.
“Diyakini atau tidak, setiap saya mendaki pasti menemui Jalak Lawu. Brung itu menclok beberapa meter di depan kami. Kemudian terbang lagi dan menclok di depan kami lagi,” ujar Sunaerto, warga Plaosan, Magetan.
Sunarto merupakan salah satu warga yang gemar mendaki ke puncak Gunung Lawu. Dalam setahun kadang tiga hingga lima kali dia mendaki.Waktunya tidak tentu.”Setiap bulan Suro saya pasti naik,” lanjutnya.

“Diyakini atau tidak, setiap saya mendaki pasti menemui Jalak Lawu. Brung itu menclok beberapa meter di depan kami. Kemudian terbang lagi dan menclok di depan kami lagi,” ujar Sunaerto, warga Plaosan, Magetan.
Sunarto merupakan salah satu warga yang gemar mendaki ke puncak Gunung Lawu. Dalam setahun kadang tiga hingga lima kali dia mendaki.Waktunya tidak tentu.”Setiap bulan Suro saya pasti naik,” lanjutnya.

Lelaki yang berprofesi sebagai aktivis pemerhati soal kemasyaraktan
di Magetan itu tak lagi asing dengan keberadaan Jalak Lawu. Bahkan dia
sering menjadikannya sebagai penunjuk jalan.”Warga Plaosan yakin, Jalak
Lawu merupakan burung pemandu pendaki. Saya sendiri sering mengikuti
arah terbang dia saat mendaki. Nyatanya gak pernah kesasar, meski cuaca
tak bersahabat,” ujarnya.
Terdapat dua teknik mengamati keberadaan Jalak Lawu. Pertama, jika cuaca cerah bisa melihat arah terbangnya. Kedua, jika cuaca berkabut, musti dicermati suara pekikannya.
Belum diketahui pasti berapa ekor burung Jalak yang berhabitat di Lereng Gunung Lawu.Menurut warga sekitar, dulu burung berwana keabu-abuan ini banyak dijumpai di kawasan setempat. Tapi sekarang sudah jarang.
Konon, Jalak Lawu dulunya merupakan burung Jalak piaraan punggawa Prabu Brawijaya V yang diyakini musna di Gunung Lawu. Brung itu beranak-pinak dan terus berhabitat di kawasan gunung yang berlokasi di perbatasan Jatim-Jateng itu.Sebagai pendaki sejati buktikan kalau anda pecinta alam dengan tidak memburu hewan atau binatang di gunung termasuk sang pemandu gunung lawu jalak lawu.
Terdapat dua teknik mengamati keberadaan Jalak Lawu. Pertama, jika cuaca cerah bisa melihat arah terbangnya. Kedua, jika cuaca berkabut, musti dicermati suara pekikannya.
Belum diketahui pasti berapa ekor burung Jalak yang berhabitat di Lereng Gunung Lawu.Menurut warga sekitar, dulu burung berwana keabu-abuan ini banyak dijumpai di kawasan setempat. Tapi sekarang sudah jarang.
Konon, Jalak Lawu dulunya merupakan burung Jalak piaraan punggawa Prabu Brawijaya V yang diyakini musna di Gunung Lawu. Brung itu beranak-pinak dan terus berhabitat di kawasan gunung yang berlokasi di perbatasan Jatim-Jateng itu.Sebagai pendaki sejati buktikan kalau anda pecinta alam dengan tidak memburu hewan atau binatang di gunung termasuk sang pemandu gunung lawu jalak lawu.
Kamis, 04 Juli 2013
Darimana Asal Bunga Edelweis ?
Darimana Asal Bunga Edelweis? Pertanyaan yang menggelitik. Apakah bunga Edelweis ada yang menanamnya atau dia tumbuh begitu saja dengan sendirinya? Family Asteraceae memiliki karangan bunga, dan menghasilkan banyak sekali bunga generatif. Oleh angin, serbuk - serbuk bunga yang berisi bunga - bunga generatif di terbangkan dan disaat mendapat media yang tepat akan tumbuh dan berkembang.
![]() |
| Bunga Edelweis |
Pertumbuhan Edelweis tergolong cepat, walau hanya memiliki tinggi 1 meter, akan menghasilkan bunga - bunga generatif yang melimpah. Di daerah yang sama sekali tidak terusik, seperti pegunungan, Edelweis mampu tumbuh hingga 8 m dan dengan batang yang kokoh.
Dari kajian ekologis, Edelweis memiliki peran sebagai pioner dalam revegetasi dan suksesi. Menjadi tanaman pertama yang tumbuh dan menghasilkan unsur - unsur hara sebagai media tumbuh tanaman lain. Selain tanaman perintis, Edelweis menjadi “cover corp” atau tanaman penutup yang mempu menahan hempasan air hujan dan laju permukaan, sehingga meminimalkan resiko erosi.
Disisi lain, banyak serangga yang hidup didalam bunga untuk sekedar menghisap nektar atau berlindung didalam rimbunya dedaunan.
Di lokasi yang bukan habitat aslinya, Edelweis akan mengalami gangguan pertumbuhan. Di lokasi tersebut, Edelwesi terlihat dengan daun dan bunga yang tak serimbun di pegunungan, dan terkesan kurus. Namun adanya pembatas faktor lingkungan tak menghalangi Edelweisuntuk tetap hidup, yakni dengan beradaptasi walau dengan pertumbuhan yang tidak normal.
Sungguh perjuangan yang tidak mudah bagi Edelweis agar tetap hidup dilingkungan barunya. Yang menjadi ancaman, bukanlah kondisi lingkungan, tetapi yang ditakutkan adalah ulahtangan jahil yang tidak bertanggung jawab.
![]() |
| Blepot Di Lembah Mandalawangi |
Menjadi pertanyaan sekarang, bisakah kita menjaga dan mengapresiasi tanaman eksotistersebut. Jangan gara - gara dengan embel - embel bunga keabadian lantas memetik dan mempersembahkan kepada kekasih, percuma tak ada yang abadi kecuali bunga plastik yang perlu ratusan tahun agar terurai.
Naif juga jika memetik Edelweis sebagai wujud ketulusan cinta, sebab Edelweis sudah lebih tulus dari cinta siapapun, sebab dia rela menjadi yang pertama untuk sebuah kehidupan.
Jangan tanyakan tentang perjuangan untuk Edelweis, karena bunga ini harus benar - benar survive agar mampu menjadi yang pertama dalam suksesi dan revegetasi. Bijak sekali juga kita bisa belajar dari Edelweis ini bagaimana tentang keabadian, ketulusan dan pengorbanan, baik kepada orang terkasih, sesama dan alam ini, seperti yang ditunjukan Edelweis dalam habitatnya.
Di balik keindahan dari bunga edelweis ternyata tersimpan sebuah mitos, dimana bagi yang memberikan bunga ini kepada pasangannya, maka cintanya akan abadi. Tidak sedikit para pencinta yang menjadikan bunga abadi ini menjadi salah satu hadiah spesial bagi pasangannya. Konon, hal itu dimaksudkan agar cintanya abadi.
Mmm.., kalau bicara mengenai mitos memang susah, meskipun terkadang itu tidak masuk akal. Tapi di lain sisi, ketika posisi kita telah menjadi korbannya, justru sebaliknya, “Mitos mampu mengalahkan sebuah logika dan keyakinan”. Nggak percaya? Coba deh tanyain ke teman-teman kamu mengenai hal ini. Atau mungkin diantara kamu memiliki cerita tersendiri mengenai mitos ini.
Siapa yang nggak tahu bunga edelweis, atau banyak orang yang memberikan istilah denganbunga abadi. Kalau dilihat dari bentuknya bunga ini sangat cantik, dan di balik kecantikannya itu tersimpan makna ataupun mitos yang cukup banyak mempercayainya. Butuh perjuangan untuk mendapatkannya, karena bunga yang satu ini biasanya tumbuh di puncak-puncak atau lereng-lereng gunung.
Oleh karena itu kamu bisa membayangkan betapa susahnya untuk bisa memetik si bunga abadi ini. Orang bilang, “Untuk mendapatkan bunga edelweis yang indah, maka semakin besar resiko yang dihadapi”, karena nyawa adalah tantangannya. Mengingat bahwa bunga edelweis telah menjadi bunga yang langka dan dilindungi, razia juga salah satu resiko yang harus ditanggung.
Tapi.., fenomena yang ada sekarang ini justru mengharuskan kita agar dapat bijaksana dan membuat benang merah agar bunga edelweis tetap ada sebagai pelepas dahaga jika seandainya suatu saat kita berdiri di sebuah puncak yang tinggi, dimana sekeliling kita adalah hamparan bunga abadi ini. Save Edelweis!
So, kalau pacar kamu bertanya, “Kenapa kamu (tiba-tiba) nggak suka bunga edelweis? Bukankah itu bunga abadi yang bisa membuat cinta kita abadi seperti bunga edelweis?”. Cari alasan lain aja deh, yaa.. mungkin kamu bisa bilang, “Bunga itu terlalu indah untukku..”, “Aku gak tega melihatnya, karena hanya bunga ini puncak dan lembah di pegunungan menjadi indah..”, atau, “Cinta kita akan lebih indah dan abadi jika kamu memberikan bunga bank..”. Bagi yang percaya bahwa bunga edelweis bisa membuat cinta kamu abadi, akan lebih bijaksana kalau kamu justru membiarkan bunga itu tumbuh dan abadi sesuai pada tempatnya.
–> Kamu tidak akan pernah mendapatkan cinta abadi (dari sekuntum bunga abadi), tapi adalah cinta sejati (juga bukan dari sekuntum bunga Edelweis). Dan kamu justru tidak akan mendapatkan keduanya jika kamu tidak meyakini bahwa yang sedang kamu rasakan sekarang ini adalah cinta sejati dan juga abadi 
Langganan:
Postingan (Atom)




























